Mikroplastik kini menjadi isu yang semakin sering dibahas karena keberadaannya yang tidak terlihat, tetapi berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia melalui aktivitas sehari-hari. Partikel ini berukuran sangat kecil, sehingga sering luput dari perhatian meskipun sumbernya dekat dengan kehidupan kita.
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari degradasi material polimer. Secara kimia, plastik seperti polietilena (PE) tersusun dari rantai panjang hasil polimerisasi monomer etilena. Struktur ini memang stabil karena didominasi oleh ikatan kovalen, namun bukan berarti tidak dapat rusak. Dalam kondisi penggunaan sehari-hari, seperti gesekan atau pemanasan, rantai polimer dapat mengalami pemutusan (chain scission) sehingga menghasilkan fragmen kecil berupa mikroplastik. Proses pembentukan polimer dapat dituliskan sebagai:
Sementara itu, proses degradasinya dapat dijelaskan secara sederhana sebagai pemutusan rantai panjang menjadi fragmen yang lebih pendek akibat energi dari panas, gesekan, atau radiasi.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, salah satu sumber mikroplastik yang sering diabaikan adalah penggunaan talenan plastik. Talenan yang digunakan berulang kali akan mengalami goresan akibat kontak dengan pisau. Goresan ini tidak hanya merusak permukaan secara visual, tetapi juga secara mikroskopis menyebabkan pelepasan partikel plastik. Banyak orang berasumsi bahwa selama talenan terlihat bersih, maka penggunaannya aman. Namun, asumsi ini lemah karena partikel mikroplastik yang dihasilkan justru berukuran sangat kecil dan tidak terlihat. Secara kimia, proses ini bukan reaksi kimia klasik, melainkan degradasi fisik yang berdampak kimiawi karena terjadi pemutusan rantai polimer.

Selain itu, praktik yang lebih berisiko adalah pemanasan plastik secara langsung, seperti pada kasus pedagang bakso yang merebus mie instan bersama bungkus plastiknya. Pada suhu tinggi, struktur polimer menjadi lebih fleksibel dan memungkinkan terjadinya pelepasan zat aditif ke lingkungan sekitar. Proses ini melibatkan peningkatan energi kinetik molekul sehingga mempercepat difusi zat dari dalam plastik ke air rebusan. Secara sederhana, proses perpindahan zat tersebut dapat digambarkan sebagai: Zat aditif (dalam plastik) → terlepas → larut ke dalam air panas → tercampur dengan makanan.
Zat aditif yang dilepaskan dapat berupa senyawa seperti Bisphenol A (BPA) atau ftalat yang bersifat toksik. Campanale et al. (2020) menyatakan bahwa mikroplastik dapat membawa zat kimia beracun ke dalam rantai makanan, yang menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya berbahaya sebagai partikel, tetapi juga sebagai pembawa senyawa berbahaya.
Setelah masuk ke dalam tubuh melalui makanan, mikroplastik dapat berinteraksi dengan sistem biologis pada tingkat seluler. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini diduga dapat berinteraksi dengan atau menembus membran sel dan memicu reaksi kimia dalam tubuh. Salah satu mekanisme utama adalah pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS), yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Keberadaan ROS dalam jumlah berlebih menyebabkan stres oksidatif yang dapat merusak komponen sel, di antaranya:
- Terjadi peroksidasi lipid pada membran sel sehingga struktur sel menjadi tidak stabil
- Protein mengalami perubahan struktur (denaturasi)
- DNA dapat mengalami kerusakan yang dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko mutasi
Firdaus dan Zen (2025) menyebutkan bahwa paparan mikroplastik dapat memicu stres oksidatif dan inflamasi, yang memperkuat bahwa interaksi mikroplastik dengan tubuh tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga kimiawi.
Namun, penting untuk mengkritisi beberapa asumsi yang sering muncul dalam pembahasan mikroplastik. Anggapan bahwa plastik bersifat inert sehingga sepenuhnya aman perlu diluruskan, karena sifat inert hanya berlaku dalam kondisi tertentu dan tidak mencakup degradasi fisik. Selain itu, anggapan bahwa jumlah kecil tidak berbahaya mengabaikan sifat paparan yang akumulatif dari berbagai sumber. Label food-grade juga sering disalahartikan sebagai aman dalam segala kondisi, padahal hanya berlaku pada kondisi penggunaan tertentu, bukan pada pemanasan ekstrem atau penggunaan berulang dalam kondisi rusak.
Untuk mengurangi paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan. Penggunaan talenan plastik yang sudah tergores sebaiknya diganti dengan bahan alternatif seperti kayu atau kaca. Selain itu, hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik, terutama pada suhu tinggi. Penggunaan wadah berbahan kaca atau stainless steel menjadi pilihan yang lebih aman. Kesadaran terhadap cara penggunaan plastik ini penting karena risiko mikroplastik lebih banyak berasal dari kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele.
Dengan demikian, bahaya mikroplastik tidak hanya terletak pada satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi kompleks antara proses degradasi polimer, pelepasan zat kimia, dan respons biologis tubuh. Dalam studi kasus penggunaan talenan plastik dan pemanasan plastik bersama makanan, keduanya menunjukkan bagaimana aktivitas sederhana dapat memicu proses kimia yang menghasilkan mikroplastik. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih tepat bukan sekadar menghindari plastik secara total, melainkan memahami kondisi penggunaannya agar risiko paparan mikroplastik dapat diminimalkan.
DAFTAR PUSTAKA
Campanale, C. e. (2020). A detailed review study on
potential effects of microplastics and additives of concern on human health. International
Journal of Environmental Research and Public Health.
Firdaus, B. &. (2025). Dampak mikroplastik
terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Jurnal AN-NUR.
Leslie, H. A. (2022). Discovery and quantification
of plastic particle pollution in human blood. Environment International.
Permana, M. A. (2025). Mikroplastik pada manusia:
rute paparan, mekanisme toksikologi, dan risiko kesehatan. Jurnal
Kedokteran Universitas Lampung.
Wright, S. L. (2020). Plastic and human health: A
micro issue. Environmental Science & Technology.
Komentar
Posting Komentar