Kenapa Makan Cabai Bikin Lidah Terbakar? Ini Penjelasan Kimianya!

Cabai merupakan salah satu bahan masakan penting yang tidak dapat ditinggalkan dari kebutuhan sehari-hari masyarakat Indonesia. karena pada umumnya masakan nusantara membutuhkan cabai sebagai salah satu bahan penting. Melansir dari berbagai sumber, sensasi terbakar pada lidah akibat konsumsi cabai disebabkan oleh capsaicin, senyawa alkaloid lipofilik utama dengan rumus molekul C₁₈H₂₇NO yang terdapat terutama pada plasenta buah cabai rawit (Capsicum frutescens L.), memiliki titik leleh sekitar 65°C dan titik didih 210°C, serta memberikan rasa pedas melalui interaksi spesifik dengan reseptor TRPV1 (Transient Receptor Potential Vanilloid 1) pada ujung saraf sensorik nociceptor di mukosa mulut.



sumber; Brain Academy Ruang Guru


Zat kimia tersebut tidak memiliki bau maupun rasa, dan terletak di dalam bagian putih cabai. Zat kimia ini mengikat reseptor yang merespons rasa sakit di lidah dan mulut. Respons ini kemudian dikirim ke otak sehingga otak memerintahkan untuk mengusir rasa pedas secara spontan dan alamiah.

 

Dan ketika kita mengkonsumsi cabai, zat kimia tersebut juga mengikat reseptor yang berfungsi untuk merespons rasa sakit di lidah dan mulut. respons tersebut kemudian dikirim ke otak sehingga otak secara otomatis memerintahkan tubuh untuk mengusir rasa pedas secara alamiah atau spontan

Hasilnya, sirkulasi pada tubuh meningkat dan terjadi gangguan tertentu seperti hidung meler atau keluarnya air mata seperti sedang menangis. namun saat proses tersebut terjadi, tubuh juga melepaskan hormon endorfin yang membunuh rasa sakit alami yang juga membuat makanan terasa lezat.

Sensasi terbakar pada lidah saat makan cabai disebabkan oleh zat capsaicin, senyawa kimia alami di dalam cabai yang menempel pada reseptor khusus di lidah bernama TRPV1. Reseptor ini biasanya mendeteksi panas tinggi, seperti suhu di atas 40-43°C, tapi capsaicin menipunya dengan mengikat langsung ke reseptor tersebut, membuatnya aktif seolah lidah sedang terkena panas ekstrem meskipun suhu sebenarnya normal. Akibatnya, reseptor mengirim sinyal listrik ke saraf sensorik di mulut, lalu ke otak melalui lobus parietal di cerebral cortex, dimana otak menginterpretasikan sinyal itu sebagai rasa sakit atau terbakar, bukan rasa pedas sesungguhnya karena lidah hanya punya reseptor untuk manis, asin, asam, dan pahit.

Prosesnya seperti pintu kanal ion di reseptor TRPV1 yang terbuka lebar saat capsaicin menempel, membiarkan ion-ion seperti kalsium dan natrium masuk deras ke dalam sel saraf, yang menyebabkan sel saraf "meledak" secara listrik (depolarisasi) dan memicu ledakan sinyal nyeri ke otak. Capsaicin punya sifat seperti minyak (lipofilik), jadi mudah larut di lemak lidah tapi tidak di air, makanya minum air bisa membuatnya menyebar lebih luas dan membuat tambah panas. Lama-kelamaan, reseptor jadi kebal sementara (desensitisasi) setelah terlalu banyak stimulus, sehingga rasa pedas berkurang, tapi jika makan lebih banyak, sensasi panas akan balik lagi karena zatnya masih nempel.

Tubuh merespons dengan melepaskan hormon endorfin untuk melawan rasa sakit itu, yang membuat orang ketagihan makan pedas karena endorfin memberi rasa senang seperti morfin alami. Selain lidah, capsaicin juga merangsang kelenjar keringat dan hidung meler sebagai pertahanan alami. Variasi kepedasan cabai tergantung kadar capsaicinnya, yang lebih tinggi di cabai rawit dibanding cabai besar.

Capsaicin, yaitu senyawa alkaloid utama pada cabai, merupakan komponen kimia yang bertanggung jawab terhadap munculnya sensasi terbakar pada lidah. Menurut Agustina dan Indriani (2020), kadar capsaicin berbeda pada setiap varietas Capsicum spp., dan perbedaan ini menentukan tingkat kepedasan yang dirasakan. Secara kimia, capsaicin bersifat lipofilik, sehingga mudah berikatan dengan jaringan berlemak pada permukaan lidah. Ketika capsaicin kontak dengan mukosa mulut, molekul ini segera berinteraksi dengan reseptor TRPV1, suatu protein sensorik yang biasanya mendeteksi rangsangan panas atau suhu tinggi. Fitriani dan Lestari (2019) menjelaskan bahwa ikatan capsaicin dengan TRPV1 menyebabkan kanal ion terbuka sehingga ion natrium dan kalsium mengalir deras ke dalam sel saraf, memicu depolarisasi dan mengirim sinyal rasa sakit ke otak. Otak kemudian menafsirkan sinyal tersebut sebagai sensasi panas ekstrem, meskipun tidak terjadi peningkatan suhu yang sebenarnya, sehingga muncullah rasa “terbakar” khas ketika mengonsumsi cabai.

Respons tubuh terhadap capsaicin tidak hanya berhenti pada aktivasi reseptor TRPV1. Suryani dan Wahyudi (2021) menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi capsaicin dapat memicu respons fisiologis seperti peningkatan detak jantung, keluarnya keringat, dan lakrimasi akibat refleks tubuh dalam menghadapi “rasa sakit” kimiawi tersebut. Selain itu, proses ini berkaitan pula dengan sifat biokimia capsaicin yang memiliki potensi farmakologis. Menurut Lindawati dan Saputra (2022), capsaicin mampu menimbulkan efek analgetik alami setelah paparan berulang melalui mekanisme desensitisasi reseptor, yaitu penurunan sensitivitas TRPV1 terhadap stimulus lebih lanjut. Sementara itu, perbedaan lokasi akumulasi capsaicin pada bagian plasenta cabai, sebagaimana dijelaskan Rahmawati dan Putra (2017), juga turut menentukan intensitas sensasi terbakar karena bagian ini mengandung kadar capsaicin tertinggi dibandingkan bagian buah lainnya.

Secara keseluruhan, sensasi pedas bukanlah rasa, melainkan hasil dari reaksi kimia capsaicin dengan sistem saraf sensorik manusia. Studi Pratama dan Kurniawan (2018) menegaskan bahwa sifat kimiawi capsaicin yang unik menjadikannya molekul penting dalam memahami interaksi antara senyawa pangan dan fisiologi manusia. Dengan demikian, kombinasi sifat lipofilik capsaicin, interaksi spesifik dengan reseptor TRPV1, serta respons fisiologis tubuh yang kompleks menyebabkan konsumsi cabai menimbulkan sensasi terbakar yang khas pada lidah.



sumber; artikel.sainspop.com

 

Capsaicin adalah senyawa kimia utama yang memberi rasa pedas pada cabai. Secara struktur, molekul ini bersifat lipofilik, artinya lebih mudah larut dalam lemak daripada air. Sifat ini menjelaskan mengapa minum air ketika kepedasan tidak membantu air tidak bisa melarutkan capsaicin sehingga molekulnya justru menyebar lebih luas di permukaan lidah. Sebaliknya, makanan atau minuman berlemak seperti susu, yoghurt, atau keju dapat mengurangi pedas karena lemak di dalamnya dapat “mengikat” capsaicin dan membawanya pergi dari reseptor di mulut. Kadar capsaicin dalam cabai juga bervariasi, dan bagian yang paling banyak mengandung capsaicin adalah plasenta atau bagian putih tempat biji melekat, sehingga area ini terasa paling pedas dibandingkan bijinya sendiri.

Di dalam tubuh, sensasi pedas sebenarnya merupakan bentuk “penipuan biologis”. Pada permukaan lidah dan mulut terdapat protein khusus bernama TRPV1, yaitu reseptor yang normalnya bertugas mendeteksi panas fisik misalnya suhu makanan yang benar-benar tinggi. Ketika capsaicin menempel pada TRPV1, reseptor ini terbuka dan membiarkan ion kalsium dan natrium masuk ke dalam sel saraf. Proses ini memicu depolarisasi, yaitu aktivasi saraf yang kemudian mengirim sinyal menuju otak. Otak menafsirkan sinyal itu sebagai tanda “panas berbahaya”, sehingga muncullah sensasi terbakar meskipun sebenarnya tidak ada peningkatan suhu. Inilah sebabnya cabai terasa panas, bukan hanya sekadar pedas.

Tubuh tidak berhenti sampai disitu sensasi pedas juga memicu respons fisiologis lain yang membuat banyak orang justru menyukai makanan pedas. Ketika otak menerima sinyal “rasa sakit” dari TRPV1, tubuh merespons dengan melepaskan endorfin, yaitu zat kimia alami yang berfungsi meredakan rasa sakit sekaligus menimbulkan perasaan nyaman, lega, atau bahkan sedikit euforia. Karena adanya kombinasi antara sensasi panas yang menantang dan “hadiah” berupa rasa nyaman setelahnya, banyak orang akhirnya merasa ketagihan makan makanan pedas. Dengan demikian, sensasi pedas adalah hasil interaksi kompleks antara kimia cabai, sistem saraf, dan respons hormonal tubuh manusia.

Selain memberikan sensasi pedas dan reaksi fisiologis tertentu, capsaicin juga memiliki manfaat lain dalam tubuh manusia. Senyawa ini diketahui dapat meningkatkan metabolisme karena mampu menaikkan laju termogenesis, yaitu proses produksi panas tubuh yang membakar kalori. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi capsaicin dalam jumlah wajar dapat membantu meningkatkan sistem imun serta memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan. Meski demikian, sensitivitas setiap orang terhadap pedas berbeda-beda bergantung pada jumlah reseptor TRPV1 dan tingkat toleransi yang terbentuk dari kebiasaan makan makanan pedas. Oleh karena itu, walaupun capsaicin memberikan beragam efek menarik dari sudut pandang biokimia, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh agar tidak menimbulkan iritasi pada lambung atau gangguan pencernaan lainnya.











DAFTAR PUSTAKA

Agustina, R., & Indriani, D. (2020). Karakteristik capsaicin pada beberapa varietas cabai (Capsicum spp.) dan pengaruhnya terhadap tingkat kepedasan. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 31(2), 125–134. https://doi.org/10.6066/jtip.2020.31.2.125

Fitriani, S., & Lestari, A. (2019). Mekanisme capsaicin dalam memicu sensasi panas melalui aktivasi reseptor TRPV1. Jurnal Biologi Indonesia, 15(3), 205–214.

Suryani, T., & Wahyudi, B. (2021). Pengaruh konsentrasi capsaicin terhadap respons fisiologis tubuh manusia. Jurnal Sains dan Kesehatan, 4(1), 45–52. https://doi.org/10.25026/jsk.v4i1.421

Pratama, H. R., & Kurniawan, M. (2018). Studi komprehensif sifat kimia cabai (Capsicum frutescens) dan manfaatnya dalam kesehatan. Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia, 9(1), 33–41.

Lindawati, Y., & Saputra, D. (2022). Aktivitas biologis capsaicin dan potensinya sebagai analgetik alami. Jurnal Farmasi Nasional, 10(2), 89–98.

Rahmawati, N., & Putra, E. D. (2017). Variasi kadar capsaicin pada cabai rawit dan cabai besar serta implikasinya terhadap tingkat kepedasan. Jurnal Agroteknologi, 11(2), 155–162.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Segitiga Api dan Rahasia Dibalik Nyala Api

Wow! Begini Cara Kimia Mewarnai Langit Saat Malam Tahun Baru